Saturday, 3 August 2013

Love or Lie (Bagian 3 - Tamat)

Leave a Comment


“Kau ini kemana saja? Aku khawatir kau tersesat.” Tanyanya cemas
“Heeiii. .!! Aku ini bukan anak kecil, Aku tau perusahaanmu ini sangat besar. Tapi Aku juga bisa mencari ruang kerjamu sendiri.”Jawabku sambil marah-marah.
“Kenapa kau jadi marah-marah begitu?” Tanya Joo Won
“Tidak ada. .” jawabku ketus.
“Baiklah Aku mengalah, Aku minta maaf. Kau mau makan ice cream?” bujuk Joo Won. Aku memang suka sekali dengan ice cream. Joo Won tau kalau Aku sedang marah Aku pasti ingin makan ice cream.
          Kami pun pergi ke cafe di sebelah kantor Joo Won yang menjual ice cream. Disana kami bertemu dengan teman Joo Won yang bernama  Jo Seong Wook. Dia adalah teman Joo Won  sewaktu masih kuliah.

          “Joo Won, siapa dia? Pacarmu?” Tanya Seong Wook pada Joo Won.
          “Bukan, dia ini temanku sejak SMA” jawab Joo Won.
          Seong Wook memperkenalkan dirinya kepadaku dan Akupun memperkenalkan diri juga. Seong Wook orang yang baik, ramah, tinggi, dan cukup keren, berkulit putih (putihnya orang Korea,)
          Setelah perkenalan itu kami jadi sering bertemu dan bertukar nomor HP. Mulai saat itu kami sering berkomunikasi dan itu berlangsung cukup lama sekitar dua minggu.
          Setelah dua minggu lamanya Aku dan Seong Wook berkenalan dan sering berkomunikasi lewat handphone. Seong Wook lantas mengajakku untuk jalan-jalan dan makan malam.
          “Mungkinkah Aku suka pada Seong Wook?” pikirku dalam hati sebelum berangkat bertemu dengan Seong Wook.
          Kami berdua akan bertemu di taman dekat apartementku. Aku lantas langsung menuju ke taman dekat apartementku. Dalam perjalanan kesana tiba- tiba ponselku berbunyi. . .ternyata ada sms masuk dari Joo Won.
          “Kau dimana? Sudah makan malam ?”Tanya nya.
          “Aku sedang dijalan. Ini baru saja mau makan malam” jawabku.
          “Oh . . .baguslah kalau kau mau makan. Kalau begitu hati-hati dijalan iia” jawab Joo Won.
          Setibanya di taman Seong Wook sudah menungguku. Ia sedang duduk di atas ayunan.Akupun menghampirinya.
          “ ayo. .kita berangkat, kita mau makan dimana?” tanyaku sambil mengajaknya pergi.
          “Oh, iya. Ayo kita berangkat. Kita akan makan malam di Restoran Italia. Kau suka makan Italia-kan?” ajaknya sambil bertanya.
          “Aku suka makanan Italia. baiklah ayo kita segera berangkat, Aku sudah lapar” bujukku pada Seong Wook.
          Setibanya di restoran tersebut, kami langsung duduk di meja dan langsung memesan makanan, di sela-sela itu. Tiba-tiba saja Seong Wook mengungkapkan perasaannya bahwa dia menyukaiku. Dan ingin Aku menjadi kekasihnya.
          Aku terdiam sejenak sambil memikirkan hal itu.setelah Aku pertimbangkan, Aku lantas menerimanya menjadi kekasihku. Setelah selesai makan, Seong Wook mengantarku pulang.
          Pagi harinya Seong Wook sudah menjemputku.Aku sebenarnya masih ragu tentang perasaanku pada Seong Wook.
          “ Kamu, mau kemana?” Tanya Seong Wook.
          “Aku, mau ke kantor Joo Won, Aku tadi sudah janjian untuk bertemu disana” jawabku.
          Sesampainya kami di kantor Joo Won. Di depan loby, Joo Won sudah menungguku. Sepertinya dia agak terkejut ketika Aku di antar oleh Seong Wook. Seong Wook juga ikut bertemu dengan Joo Won .
          “Ada apa ini?” Tanya Joo Won yang agak terkejut.
          “ Joo Won, terima kasih ya, karena kau telah memperkenalkan nona cantik ini sehingga sekarang Aku sudah menemukan kekasihku.” Jawab Seong Wook.
          Mulai hari itu, sikap Joo Won padaku menjadi berubah. Yang dulunya ramah, baik, dan cerewet. Sekarang Joo Won berubah menjadi orang yang keras dan dingin padaku.
          Aku tak tau mengapa Joo Won bersikap begitu padaku. Mulai saat itu Aku dan Joo Won seperti bukan teman yang akrab. Mulai saat itu Aku sudah tidak berani untuk berkunjung ke kantornya.
          Akupun lantas membeli sebuah mobil untuk Aku jalan-jalan nantinya. Itu karena Aku masih merasa bahwa Joo Won malah tidak mau bertemu denganku.
          “Mungkin mulai sekarang Aku harus berjalan-jalan sendirian tanpa Joo Won” pikirku dalam hati.
          “ Seong Wook sedang di sibukan oleh pekerjaannya. Aku harus mengerti keadaan nya.” Sahutku dalam hati.
          Sore harinya Aku berencana untuk pergi ke salah satu tempat perbelanjaan di Seoul. Aku mengendarai mobilku sendirian.
          Sewaktu dijalan raya tiba-tiba ada mobil di dekatku yang menabrakan diri pada mobilku, sehingga tabrakan itu tak terelakan lagi. Kakiku terjepit dibawah kursi mobil. Aku tak bisa bergerak.
          Sampai akhirnya, regu penyelamat datang. Tapi pada saat itu Aku kehilangan kesadaran dan langsung di bawa ke rumah sakit.
          Setelah Aku bangun Aku menyadari bahwa Aku sedang ada di rumah sakit.Ada perawat wanita yang mendekatiku dan bertanya.
          “Permisi nona, ada keluarga Anda yang bisa kami hubungi?” Tanya perawat tersebut.
          “Semua keluargaku tidak tinggal di sini, mereka ada di luar negeri.” Jawabku pada perawat itu.
          “ Apa perlu kami hubungi keluarga Anda? Tadi kami sudah mengecek nomor yang ada di handphone Anda kami menghubungi salah satu teman Anda.” Jawab perawat.
          “Tidak usah, biar nanti saya saja yang menghubunginya. Kalau begitu terima kasih.” Jawabku singkat.
          Aku disuruh untuk istirahat. Dan perawat itu pun langsung pergi setelah mengecek kesehatanku.
          Pagi harinya Aku terkejut, karena melihat ada seorang laki-laki yang sedang tidur di samping tempat tidurku. Setelah Aku pahami dia adalah Joo Won. Wajahnya terlihat sangat khawatir dan lelah.
          Tiba –tiba ada yang masuk. Yang masuk adalah kakak perempuanku dan adik sepupuku Afgan.
          “Rupanya kau sudah bangun. Kau tak apa?” Tanya kakakku.
          “Em. .tidak apa-apa hanya kakiku saja yang terkilir.” Jawabku.
          “Bagaimana kakak tau Aku kecelakaan?” tanyaku.
          “Aku diberi tahu oleh Joo Won. Kemarin dia mengabariku. Ayah dan ibu tak bisa kemari” jawab kakakku.
          Aku hanya bisa menatap Joo Won, Aku tak berani membangunkanya. Akupun meminta bantuan dari Afgan untuk di ambilkan kursi roda dan Aku ingin berkeliling ke taman yang ada di rumah sakit.
          Di taman itu, Afgan menceritakan bahwa sejak kemarin Joo Won lah yang menemaniku di rumah sakit. Sampai-sampai ia meninggalkan pekerjaanya. Afgan memang tidak bisa berbahasa Korea tapi Afgan bisa berkomunikasi dengan Joo Won menggunakan bahsa inggris.
          “Kak, sekarang kakak tau bahwa siapa yang selalu ada di dekat kakak ketika kakak sakit atau pun senang. Sedangkan si Seong Wook tidak ke sini karena pekerjaan.” Sahut Afgan.
          Setelah itu, kami kembali kamarku. Tapi di sana sudah tidak ada lagi Joo Won. Aku sedikit kecewa karena dia pergi tanpa pamit. Tapi setelah beberapa menit setelah itu tiba-tiba Joo Won masuk ke dalam kamar pasienku.
          “Kau sudah kembali.? Bagaimana kakimu? Masih sakit?” Tanya Joo Won.
          “Masih belum bisa berjalan dengan dua kaki. Harus dibantu dengan tongkat.” Jawabku.
          “Kakak ini dari mana?” Tanya Afgan pada Joo Won.
         “Oh. . .kakak tadi habis dari kantin belakang” jawab Joo Won sambil tersenyum.
          “Maaf, ya, Aku jadi merepotkanmu.” Ucapku.
          Setelah itu semuanya pulang termasuk Joo Won dan Afgan. Joo Won mengantar kakak dan Afgan ke apartemntku.
          Malam harinya Aku tak bisa tidur, Aku terus saja memikirkan kata –kata Afgan tentang Joo Won dan Seong Wook. Aku terus saja memikirkannya.
          “Apakah mungkin Aku menyukai Joo Won bukanya Seong Wook? Apakah mungkin” ucapku dalam hati.
          Pagi harinya Seong Wook datang menjengukku, Akupun lantas mengajaknya untuk bicara ditaman rumah sakit. Aku ingin mengatakan hal yang semalam telah Aku pikirkan dan Aku juga akan menanyakan sesuatu hal.
          “Ada apa?” Tanya Seong Wook
          “Ada sesuatu hal yang ingin Aku bicarakan” jawabku
          “Baiklah ayo cepat bicarakan saja” jawab Seong Wook sambil tersenyum
  Melihat Seong Wook tersenyum begitu Aku menjadi tidak tega untuk mengatakanya.Tapi Aku harus mengatakanya.
          Akupun mulai menjelaskan bahwa Aku belum bisa menyukai Seong Wook, Aku juga tidak mempunyai perasaan apapun pada Seong Wook, Aku bilang padanya bahwa pada saat Aku bersama Joo Won perasaan ku berbeda seperti Aku menyukainya.
          “Apa maksudmu itu?” Tanya Seong Wook yang masih belum percaya.
          “Maaf kan Aku, Aku tidak mempunyai perasaan apapun padamu, tapi sebaliknya Aku mempunyai perasaan itu pada Joo Won.” Jawabku.
          “Jadi, maksudmu kita putus?” Tanya Seong Wook lagi.
          “Maafkan Aku, maafkan Aku Seong Wook” ucapku sambil menangis.
          Setelah kejadian itu seong won langsung mengantarku ke kamarku dan langsung pulang tanpa mengatakan apapun. Mungkin pada saat Seong Wook keluar dari rumah sakit ia berpapasan dengan Joo Won .
          Joo Won yang melihat Seong Won berwajah marah langsung berlari menuju ke kamarku.
          “Apa yang terjadi?” Tanya Joo Won sambil membuka pintu kamarku.
          Ia melihat Aku yang sedang menangis membuat Joo Won semakin khawatir, dia mencoba menenangkanku. Setelah Aku tenang Joo Won memulai pembicaraan.
          “Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Joo Won
          “Aku memutuskan hubungan dengan Seong Wook” jawabku terbata-bata.
          “Memangnya kenapa Kamu memutuskan hubungan kalian” Tanya Joo Won.
          “Karena Aku menyukai pria lain” jawabku sambil melihat ke arahnya.
          Hari itu memang Aku sudah diperbolehkan pulang, kakakku sudah pulang tinggal Afgan saja yang masih menemaniku. Aku pulang diantar oleh Joo Won. Joo Won pun yang membantuku sampai ke dalam apartementku.
          Setelah sampai didalam apartement Aku langsung duduk di sofa depan televisi. Sedangkan Joo Won dan Afgan sedang membereskan barang-barangku. Setelah itu Joo Won dan Afgan berbincang-bincang di depan balkon apartement.
          Aku tak tau apa yang sedang dibicarakan oleh mereka berdua tapi Aku melihat Joo Won yang raut mukanya menunjukan dia sedang senang. Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang. Joo Won pamit untuk pulang.
          Setelah Joo Won pulang. Aku langsung bertanya pada Afgan apa yang mereka tadi bicarakan.
          “Apa yang tadi kalian bicarakan” tanyaku pada Afgan
          “Itu urusan lelaki” jawab Afgan sambil tersenyum jahil.
          Setelah cukup lama , tiba-tiba bel rumahku berbunyi. Sedangkan Afgan sedang ada di kamarnya. Jadi Aku yang membukakan pintunya.
          Betapa terkejutnya Aku ketika melihat ada seorang yang membawa seikat mawar putih (bunga kesukaanku) dan bertambah terkejutnya Aku ketika tau bahwa dia adalah Joo Won ketika ia memberikan bunga itu padaku.
          Joo Won langsung berlutut dan mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. dan ternyata yang ia keluarkan adalah sebuah cincin berwarna putih yang sangat cantik. Lalu ia langsung berkata.
          “ I LOVE YOU”

---END---
Karya: Istiyani Khoiriyah

0 Komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah yang sopan.
Dilarang berkomentar berbau Spam, SARA, Promosi, atau hal hal negatif lainnya.