Wednesday, 22 May 2013

Love or Lie (Bagian 1)

Leave a Comment


Setiap orang memiliki rasa cinta kepada orang yang di cintai
Setiap orang berhak untuk di cintai
Setiap orang berhak untuk mencintai

Tapi, dengan adanya cinta, orang bisa berbohong
Dengan adanya cinta, orang akan menjadi gila
Dengan adanya cinta, orang bisa menjadi buta

Itulah yang disebut cinta gila
Itulah yang disebut cinta buta
Kadang kita tak tahu bahwa seseorang mencintai kita
Kadang kita tak tahu bahwa kita juga mencintainya

Kita hanya bisa berbohong pada diri kita
Berkata "Aku tak cinta dia"
Tapi di dalam hati kita tersimpan namanya.

Pagi ini Aku akan meresmikan usaha baruku, distro baju yang lumayan agak besar. Selain akan membuka distro baju. Aku juga seorang penulis novel dan cerpen, walaupun karya-karyaku ini belum dikenal banyak orang.

“Alza. .cepat bangun dan mandi. Kita akan segera bernagkat ke distro mu untuk segera diresmikan. Cepat bangun. . .” panggil ibuku padaku.


“Iya , ibu. . .Alza sudah bangun.” Jawabku.


Aku pun langsung berdiri dan segera mandi, setelah itu Aku turun ke bawah untuk sarapan pagi. Disana sudah menunggu kakak dan ibuku.


“Mana ayah ?” tanyaku pada ibu.

“Ayahmu tadi pagi sudah berangkat ke New York untuk mengurusi pekerjaan yang ada disana.” Jawab ibuku pelan.

“Ayah tau kan Bu. . kalau hari ini Aku akan meresmikan distro ku yang baru. Kenapa ayah selalu pergi tanpa pamit padaku.?”  Tanyaku.


Ayahku memang sejak Aku masih di bangku sekolah dasar beliau sudah sering pergi ke luar negeri untuk mengurusi pekerjaan yang ada di sana. Aku memang jarang bertemu dengan ayah, makanya Aku dan ayahku tidak akrab.


Kami pun sekeluarga tanpa ayah pergi ke tempat distroku. Sampainya di sana kami langsung memulai acara dan meresmikanya.

Di bulan pertama peresmian distroku ini para pelanggan pun mulai berdatangan dan semakin banyak yang datang tiap harinya. Boleh dibilang ini awal yang baik.

 ---

Setelah kurang lebih enam bulan Aku sudah menjalankan distro ini, Aku memutuskan untuk membuat cabang distroku di beberapa tempat yang menurutku strategis untuk dibuat toko di situ.


“Maaf permisi, apakah nona ini yang bernama Alza Putri Prawiryo?” Tanya seorang pria padaku.


 “Iya, betul saya Alza Putrid Prawiryo. Maaf Anda ini siapa?” jawabku.


“Ooh. . .perkenalkan Aku sutradara Riski Syahputra. Kedatangan saya kemari ingin bekerjasama dengan Anda untuk membuat sebuah serial drama. Saya sudah membaca novel yang Anda buat dan ceritanya menarik.” Jawab beliau.


“Benarkah anda ingin bekerja sama dengan saya? Saya sangat berterimakasih saya akan berkerja sama dengan Anda.” Jawabku gembira.


“Terimakasih, saya akan segera membuat kontraknya. Dan saya ingin Anda membuat satu novel lagi. Anda bisa kan?” Tanya sutradara itu padaku


“Tentu, pak sutradara. Saya akan berusaha membuat novel baru.” Jawabku singkat.

          ---

Setibanya Aku di rumah Aku langsung mengabarkan kabar gembira ini pada keluargaku.

“Baguslah. . .kerja kerasmu selama ini terbayar juga.” Jawab ibuku sambil memelukku.

“Bagus kalau begitu, tapi jika kau mau fokus dengan novelmu, distro pakaianmu bagaimana?” jawab kakakku.


Kebetulan adik sepepuku sedang Anda dirumahku ia bernama Afgan, Afgan sangat dekat denganku bahkan ia sering jalan bersamaku ke mall atau pun tempat rekreasi. Mendengar hal itu ia langsung berkomentar.


“Kak Alza, penulis itu tidak sesuai dengan pendidikanmu, seharusnya dulu kakak mengambil kuliah jurusan bahasa Indonesia. Bukan mengambil jurusan bisnis.”  kata Afgan yang coba meledekku.


Memang Aku ini adalah seorang sarjana bisnis, di samping itu Aku juga suka mengarang cerpen maupun novel. Aku masuk ke bisnis karena memang Aku dari kecil sudah berkeinginan untuk menjadi bisnis woman.


Aku pun mulai mengerjakan novel terbaruku. Tapi semua itu tidak berjalan dengan mudah. Aku sudah kehabisan ide untuk membuat novel itu. Aku pun berkonsultasi dengan temanku yang bernama Kim Joo Won.


Dia temanku dari Korea, Aku dulu pernah tinggal di Korea selatan selama tiga tahun. Waktu pindah kesana Aku sedang duduk di bangku SMP kelas  tujuh. Selama disana Aku berteman baik dengan Kim Joo Won. Kami berkomunikasi lewat email. Aku cukup bisa berbahasa Korea .


“Joo Won, ada sutradara yang menawariku untuk bekerjasama senganya menbuat serial drama. Aku disuruh membuat novel yang baru.Tapi Aku sedang tidak ada ide. Aku harus bagaimana? Please. .bantu Aku.” Curhatku pada Joo Won.


“Itu berita yang sangat bagus . . .Kamu sebaiknya pergi liburan ke tempat yang indah dan sejuk juga tidak terlalu ramai. Apa Kamu liburan saja ke sini, Aku juga kangen ndengerin cerewetan Kamu Ji Eun. . .hehehe” jawabnya.


Dulu sewaktu kami satu keluarga pindah ke Korea selatan namaku pun diganti menjadi Lee Ji Eun. Tapi setibanya Aku di Indonesia namaku di ubah menjadi seperti semula yaitu Alza Putri Prawiryo.


Tanpa kupikirkan lagi Aku langsung meminta izin pada ibuku pergi ke Seoul untuk liburan dan untuk menemukan ide yang baru untuk menulis. Kebetulan di sana keluargaku mempunyai sebuah apartement rencananya nanti Aku akan tinggal di apartement itu.---


(Bersambung...)

0 Komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah yang sopan.
Dilarang berkomentar berbau Spam, SARA, Promosi, atau hal hal negatif lainnya.