Monday, 4 February 2013

Wali dan Pendosa

Leave a Comment
Konon ada seorang pemuja darwisy yang percaya bahwa dia berkewajiban untuk mencela orang - orang yang melakukan hal - hal yang buruk dan menganjurkan mereka untuk mendalami pemikiran spiritual, sehingga mereka bisa menemukan jalan yang benar. Tetapi, yang tidak diketahui oleh darwisy ini adalah bahwa seorang guru bukan semata - mata orang yang menyuruh orang lain melakukan berbagai hal melainkan bertindak sesuai dengan prinsip - prinsip tertentu. Jika guru itu tidak tahu persis bagaimana keadaan batin setiap muridnya, yang akan dihadapinya pasti berkebalikan dengan apa yang diinginkannya.

Namun, suatu hari, darwisy ini bertemu dengan seorang pria yang tak henti - hentinya berjudi, dan tidak tahu bagaimana menghentikan kebiasaan itu. Sang darwisy berjaga di luar rumah orang tersebut. Setiap kali pria itu pergi ke rumah judi, sang darwisy meletakkan sebutir batu untuk menandai setiap dosa yang dilakukannya sehingga menumpuk tinggi, yang menunjukkan kejahatan yang dilakukannya.


Setiap kali orang itu keluar, ia merasa bersalah. Setiap kali orang itu kembali, dia melihat batu lain pada tumpukan batu tersebut. Setiap kali meletakkan sebutir batu pada tumpukan, darwisy itu merasa marah dan kesenangan dalam hatinya (yang disebutnya 'sifat Ilahi') karena telah mencatat dosa orang itu.

Kejadian ini berlangsung selama 20 tahun. Setiap kali penjudi melihat sang darwisy, dia berkata pada dirinya sendiri:

"Memangnya aku tahu apa tentang kebaikan! Bagaimana orang yang saleh itu berusaha menebus kesalahanku! Memangnya aku akan bertobat, apalagi menjadi seperti dia, karena dia tahu pasti adanya tempat diantara orang - orang yang terpilih jika saat pembalasan itu tiba!"

Secara kebetulan, dalam suatu bencana alam, kedua pria itu mati bersama - sama. Seorang malaikat datang untuk mengambil nyawa si Penjudi dan berkata kepadanya dengan lembut:

"Kamu ikut denganku ke Surga."

"Tapi," kata si Penjudi, "bagaimana bisa? Aku seorang pendosa dan harus di masukkan ke Neraka. Tentunya yang kamu cari adalah darwisy itu, yang duduk di depan rumahku, yang telah berusaha untuk memperbaiki kelakuanku selama 20 tahun?"

"Darwisy itu?" kata malaikat, "Tidak, dia dibawa ke tempat yang lebih rendah, sebab dia harus di panggang di atas tungku."

"Keadilan apa ini?" seru penjudi, yang lupa diri, "kamu pasti terbalik menjalankan perintah!"

"Tidak," kata malaikat, "mari ku jelaskan padamu. Begini: darwisy itu menyibukkan dirinya selama 20 tahun dengan menumbuhkan perasaan bahwa dia lebih unggul dan lebih baik. Kini gilirannya dia menerima ganjaran yang seimbang. Sesungguhnya dia menumpuk batu - batu itu untuk dirinya sendiri, bukan untukmu."

"Dan bagaimana dengan pahala yang ku terima, apa kebaikan yang telah ku lakukan?" tanya si Penjudi.

"Kamu mendapat pahala sebab, setiap kali kamu berjalan melewati darwisy itu, yang pertama - tama kamu ingat adalah kebaikan, dan kemudian darwisy itu. Kebaikan itulah, dan bukan orangnya, yang mendatangkan pahala atas ketaatanmu."

(Sumber:Kepandaian Orang - orang "Pandir": Kumpulan Anekdot Sufi)

0 Komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah yang sopan.
Dilarang berkomentar berbau Spam, SARA, Promosi, atau hal hal negatif lainnya.