Saturday, 26 January 2013

Thalassemia, Vampire dalam Tubuh

Leave a Comment
Dibalik nama yang indah itu, ternyata penyakit ini sangat menyiksa manusia, karena belum ada obatnya dan bagi penderita, penyakit ini akan terus disandang sampai akhir hayat.

Thalassemia berasal dari bahasa Yunani, Thalassa yang artinya adalah lautan. Dan istilah Thalassemia pertama kali digunakan pada tahun 1938, Whipple dan Bradfrod yang menggambarkan ketidakmampuan atau menurunnya kondisi seseorang yang sangat drastis yang tinggal di sekitar Mediterania. Dan kini sudah diketahui bahwa orang - orang yang hidup di daerah Mediterania dapat mengidap Thalassemia.

Di jelaskan oleh Prof. dr. Iskandar Wahidayat, MDH. Penyakit ini banyak muncul di daerah Mediterania seperti Yunani, Italia, Cyprus, Turki, Spanyol, India, Srilanka, Thailand dan Indonesia. Di Eropa jarang terjadi. Jepang malah tidak ada sama sekali, belum ada sama sekali penjelasan pasti mengapa terjadinya di daerah Mediterania. Tahun 1985, Prof. dr. Iskandar Wahidayat, MDH. di undang WHO (World Health Organization) yaitu Badan Kesehatan Sedunia untuk melihat Thalassemia di Cyprus. Di sana, satu orang dari enam orang adalah pembawa sifat atau carrier. Di Italia, satu diantara tiga orang adalah carrier. Di Indonesia sendiri belum di selidiki secara tuntas. Sebelumnya, tahun 1979, Prof. dr. Iskandar Wahidayat, MDH. dalam presentasinya, menemukan bahwa suku Jawa, Sunda, Padang, Manado dan keturunan China banyak yang menjadi pembawa sifat atau carrier. Thalassemia pada orang Batak sangat sedikit dan bisa dikatakan tidak ada.

Darah terdiri dari banyak sel darah merah yang berbeda dalam cairan jernih kekuning - kuningan yang disebut plasma darah. Setiap sel darah merah, usianya sekitar 4 bulan, setelah itu akan mati dengan sendirinya. Dan sumsum tulang belakang akan menggantinya dengan sel - sel darah merah yang baru. Merahnya darah ini karena kandungan Hemoglobin yang tugasnya membawa oksigen dari paru - paru ke seluruh tubuh.

Hemoglobin banyak mengandung zat besi. Sedangkan Thalassemia disebabkan oleh pendeknya umur sel - sel darah merah, karena sedikitnya hemoglobin dalam sel darah merah. Thalassemia ada dua macam, yaitu Thalassemia Minor (bawaan atau carrier) dan Thalassemia Mayor. Siapapun takkan menyadari bahwa dirinya terkena Thalassemia Minor bila tidak memeriksakan darahnya. Mereka tampak sehat dan mungkin hanya menderita sedikit gangguan kekurangan darah.

Apabila dua orang penderita Thalassemia Minor menikah, kemungkinan turunan yang sehat 25 % atau akan menghasilkan keturunan yang menderita Thalassemia Minor dengan kemungkinan 50 % dan yang hanya menimbulkan penderitaan seumur hidup bila keturunannya menderita Thalassemia Mayor dengan kemungkinan 25 %.

Pada kenyataannya, seseorang yang menderita Thalassemia Mayor akan lebih menderita dibandingkan Thalassemia Minor.

Di Indonesia, pada tahun 90-an, menurut perkiraan, ditemukan tidak kurang dari 200.00 orang yang terkena Thalassemia Minor. Penderita jenis ini memang terdiri dari orang - orang sehat. Akan tetapi, dari mereka bisa menghasilkan Thalassemia Mayor.

Di Indonesia ada sekitar 1.000 anak kecil penderita Thalassemia Minor. Sementara di dunia setiap tahunnya lahir sekurang - kurangnya 100.000 anak penderita Thalassemia Mayor.

Kelainan yang dapat muncul pada penderita Thalassemia adalah rapuh tulang. Karena sel darah mereka berkurang, tubuh akan membentuk sel - sel darah merah yang baru secepatnya, terutama sumsum tulang. Dimana kerja keras itu menyebabkan tulang terkikis dan lama kelamaan akan menipis, akibatnya tulang mudah patah.

Kelainan atau komplikasi lainnya bila Thalassemia, khususnya yang Mayor, apabila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan penyakit jantung yang disebuat Payah Jantung. Terjadinya Payah Jantung karena jantung harus bekerja keras memompa darah agar oksigen dapat diedarkan ke seluruh tubuh, sedangkan sel darah merah yang bertugas untuk itu jumlahnya terlalu sedikit, akibatnya jantung menjadi bocor. Sewaktu penderita masih anak - anak, dimana dia masih sangat aktif bergerak, maka kebutuhan udara akan lebih banyak lagi dan jantung akan bekerja lebih keras lagi. Biasanya kalau jantung sudah tidak bisa bertahan, ia bisa berhenti mendadak, diikuti dengan sesak nafas, kaki bengkak dan sebagainya.

Yang paling menyedihkan dari penderita adalah ketergantungan yang sangat besar pada transfusi darah. Bagi penderita Thalassemia Mayor memang akan selalu berteman dengan darah sampai akhir hidupnya, karena mereka harus melakukan transfuse darah tidak hanya sekali atau dua kali, namun teratur tiap beberapa bulan atau beberapa minggu sekali menurut kondisi atau keadaan penderita. Tetapi dengan besi di dalam tubuh. Setelah beberapa lama akan terikat pada kulit yang agak hitam kebiru - biruan mengkilat. Besi - besi tadi akan menimbun di dalam kulit, paru - paru, otot jantung, pankreas, hati, ginjal, dsb., sehingga mekar dan kuncupnya jantung menjadi tidak baik.

Keadaan ini akan mempermudah si penderita terkena Payah Jantung. Dalam hati akan menyebabkan fungsi hati terganggu, di Pankreas menyebabkan terjadinya gangguan fungsi gula, sehingga muncullah penyakit baru, yaitu Diabetes, inilah yang ditakutkan akibat transfuse darah.

Penderita Thalassemia Mayor tidak akan bertahan hidup kecuali dia di transfusi darah, namun akan berakhir akibattimbulnya berbagai kelainan dari transfusi darah itu sendiri. namun ada cara untuk menghambat atau mengurangi kelainan - kelainan tersebut, karena ada obat yang bertugas untuk menarik zat besi dari jaringan tubuh yang di keluarkan bersama urine. Menurut Prof. dr. Iskandar Wahidayat, MDH. yang paling ideal dalam seminggu, lima hari harus menggunakan obat ini agar zat besi tidak tertimbun. Obat ini akan lebih efektif bila di gunakan secara infuse, sehingga masuk ke dalam tubuh secara perlahan - lahan. Dengan bantuan pompa, obat tadi di masukkan secara perlahan - lahan membutuhkan waktu selama 10 jam.

Jadi siapapun tidak ingin menderita salah satu penyakit Thalassemia ini baik itu Minor atau pun Mayor. Karena yang jelas hanya akan menyebabkan penderitaan. oleh karena itu, kita yang masih diberi kesehatan seharunya lebih bersyukur dan selalu menjaga apa yang telah diberikan Tuha, dan selalu mencintai apa yang kita miliki, seperti dalam slogan "Lebih baik mencegah, daripada mengobati". Jadi jangan menyepelekan penyakit yang ringan karena sesuatu saat mungkin akan menjadi yang lebih berat.

(Sumber: SPECTRA, Mei 2011)

0 Komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah yang sopan.
Dilarang berkomentar berbau Spam, SARA, Promosi, atau hal hal negatif lainnya.