Saturday, 26 January 2013

Penyesalan dan Doa, untuk Seorang Sahabat

Leave a Comment
Waktu pukul 11.00 siang. Yanto sedang mengendarai Sepeda Motor, speedometer menunjukkan angka 80. Rambut Yanto dan Awan berkibar - kibar.

"Kapan rambutmu dipotong?" tanya bu Sri tiga hari yang lalu.

"Besok bu, besok!" Jawab Yanto.

Ini hari Rabu, tapi rambut Yanto masih panjang alias gondrong. Yanto dan Awan sengaja pulang jam ke-6, karena jam selanjutnya adalah pelajaran guru yang menyebalkan, galak dan mengantukkan, maka dari itu, mereka pulang alias minggat, kebetulan Yanto juga membawa Sepeda Motor yang dititipkan tak jauh dari sekolah.
Di Pasar Pahing, waktu pukul 11.45. Speedometer menunjukkan angka 100. Yanto dan Awan merasakan orang, pohon dan rumah berlarian disampingnya.

"Awan bawa rokok?"

"Lagi ngebut, gak enak". Mereka tertawa.

"Mana mungkin ngebut kaya gini bisa...."

Ketawa mereka tiba - tiba berhenti, lima meter di depannya sebuah mobil tiba - tiba berhenti. Yanto membelokkan motornya ke kanan, namun di depannya meluncur kencang sebuah truk. Yanto mengambil antara mobil dan truk kira - kira 1 meter.

"**angsa*!!!" Yanto memaki. Supir truk meludahi mereka, nggak kena.

Setelah terbebas dari kejadian tadi yang mungkin dapat merenggut nyawa mereka, Yanto malah semakin nekad untuk mempercepat laju motornya.

"Awas, Yan....!" Awan berteriak, Yanto membelokkan motornya dengan cepat, tiba - tiba  motor itu terpental, jatuh menyamping meyeret Yanto dan Awan.

"Braakkk.....sreetttt.....!!!!" Orang yang melihat dalam mobil berteriak dan jalanan jadi riuh. 

Waktu menunjukkan 11.59 terasa pengap.

"Mana Yanto! Mana Yanto..?!" Awan berteriak di amben rumah sakit, teman - temannya saling berpandangan.

"Kamu gak usah mikirin Yanto, Yanto baik - baik saja, kok. Sekarang pikirkan diri kamu sendiri, tangan kamu yang patah harus segera sembuh." Awan memandangi tangan kanannya. Ia mulai menangis, teman - temannya tahu bahwa ini bukan waktu yang terbaik untuk menjenguk Awan. Temannya satu persatu meninggalkan Awan yang menangis (karena nyesal atau sakit).

"Ya Allah.....!" Awan merintih. Ia merasa malu dengan menyebut nama-Nya. Karena Awan sudah lama melupakan Allah, padahal setiap saat ia ingat, hanya saja ia pura - pura lupa. Ia menyesal dan mengingat ketika uang untuk membayar buku digunakan untuk hiburan tahun baru di GOR.

Padahal keluarganya termasuk golongan ekonomi bawah, bahkan ia mempunyai dua adik yang semuanya masih sekolah. Ketika orang tuanya tahu uang yang di salahgunakan, orang tuanya merasa kesal dan kaget tapi mereka tetap sayang kepada Awan. Awan juga pernah minggat dari rumah karena tidak di belikan sepeda motor.

"Byak!" suara air yang di basuhkan dimuka. Secara perlahan ia usap air wudunya bergantian. Setelah selesai dan berdoa, siap untuk Shalat. Untuk pertama kalinya ia Shalat sejak kelas 1 SMP dan untuk pertama kalinya ia menangis kepada Allah, ia berlumur darah dosa.

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, tiba - tiba Rohis -- teman sekelasnya -- mejenguknya sendirian.

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikum salam"

"Sudah sembuh, Wan?" Lalu duduk di sampingnya sambil meletakkan bungkusan di meja.

"Ah, ngerepotin saja," Awan nggak enak, sebab dulu, jangankan dekat, ngomong pun nggak pernah. Lalu ia berbincang - bincang cukup lama. Lalu Rohis memegang pundak Awan, "Wan, Yanto....Yanto... di panggil Allah,"

"Innalillahi wa innailaihi roji'un," Awan membalik.

"Kamu nggak boleh nangis,"

"Aku nggak nangis,"

"Kamu sedih?" Awan diam sejenak, "Yanto belum Shalat."

Setelah 6 hari, Awan ke kuburan Yanto, ternyata Yanto sudah meninggal sejak kejadian itu terjadi.

Udara berdesir, lalu ia membawakan doa - doa untuk sahabat yang telah meninggalkannya dan doa untuk sahabat yang telah mengingatkan Awan ke jalan yang sudah terlalu jauh dari Ridha-Nya dengan terjadinya peristiwa itu.

(Sumber: SPECTRA, Januari 2011)

0 Komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah yang sopan.
Dilarang berkomentar berbau Spam, SARA, Promosi, atau hal hal negatif lainnya.