Saturday, 26 January 2013

Kisah Paku

Leave a Comment
Alkisah, ada seorang anak, sebut saja Fulan. Si Fulan ini rupanya seorang anak yang suka sekali marah. Setiap ada masalah kecil, ia langsung marah. Melihat tingkah laku anaknya, sang Ayah pun berpikir, bagaimana caranya untuk bisa menahan marah anaknya.

Pada suatu ketika, Fulan pulang ke rumah dalam keadaan penuh dengan amarah, lalu sang Ayah mendekatinya dan memberi Fula paku. Sang Ayah pun menyuruh Fulan untuk memakukan sebuat paku ke pagar kayu belakang rumah.

Serasa mendapat tantangan, si Fulan mengikuti apa yang di perintahkan oleh Ayahnya. Ternyata, pada hari pertama, ia berhasil menancapkan 16 buah paku ke pagar kayu. Hari demi hari berlalu, secara bertahap, jumlah paku yang di tancapkan Fulan ke pagar kayu kian berkurang dan pada suatu hari ia berhasil tidak memakukan sebuah paku ke pagar kayu. Fulan menyadari bahwa hanyalah kesia - siaan yang di dapat ketika ia marah dan kemudian menancapkan paku ke pagar kayu.

Ia kemudian berkata pada sang Ayah, "Ayah, hari ini aku sudah tidak lagi memakukan sebuah paku ke pagar, aku sudah bisa menahan marah dan mengendalikan emosiku." Sang Ayah tersenyum dan menjawab "Bagus, sekarang, setiap kali engkau dapat menahan amarahmu, maka cabutlah satu buah paku yang sudah kamu pakukan."

Lagi - lagi serasa mendapat tantangan, Fulan menjalankan apa yang Ayah Fulan perintahkan. Ia mulai mencabuti paku - paku di pagar belakang rumah satu per satu setiap kali ia dapat menahan marah.

 Si Fulan telah menyelesaikan tugasnya untuk mencabuti semua paku dan ia melaporkan perkara ini kepada ayahnya. Sang Ayah bangkit dan berbicara, "Duhai anakku, lihatlah pagar kayu itu. Sebelum engkau memakukan paku, pagar itu tampak mulus, namun lihatlah sekarang, banyak sekali lubang - lubang kecil bekas paku."

"Ketika engkau marah kepada seseorang, mungkin saja orang tersebut sudah memaafkan kesalahanmu, akan tetapi bagaimana pun juga tetap saja ada sisa di hati orang tersebut yang tidak mungkin hilang selamanya."

Kawan, bukan perkara yang sulit untuk meminta maaf kepada orang yang kita sakiti, akan tetapi merupakan hal yang sangat sulit untuk tidak meninggalkan apa yang telah kita perbuat kepada orang tersebut. So, berhati - hatilah dalam bertindak.

(Sumber: SPECTRA, Mei 2011)

0 Komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah yang sopan.
Dilarang berkomentar berbau Spam, SARA, Promosi, atau hal hal negatif lainnya.