Saturday, 20 October 2012

Dialog nabi Isa A.S dengan Iblis

Leave a Comment
Pada saat usia 30 tahun, nabi Isa a.s sering pergi ke luar rumah untuk mengasingkan diri dari keramaian, membersihkan nurani dan mencari pencerahan jiwa. Ketika menuju ke Bukit Zaitun, Nabi Isa jatuh terduduk dekat sebuah batu besar dan merasa lapar. Tiba-tiba saja ada yang datang menghampirinya, lalu menawarinya menjadikan batu besar itu roti.
“Aku mampu menjadikan batu besar itu menjadi roti, niscaya kamu tidak akan kelaparan,” kata orang yang datang itu yang tak lain adalah iblis.



“Aku tidak akan meminta pertolongan kepadamu. Kebesaran Tuhan hanya ada pada Allah,” kata Nabi Isa a.s.

Iblis lalu pergi setelah tidak berhasil membujuk Nabi Isa a.s. Setelah kepergian iblis itu, Nabi Isa mengucapkan syukur kepada Allah karena telah ditetapkan imannya sehingga tidak terperdaya oleh bujuk rayu iblis.

Ketika berada di bukit Zaitun, Nabi Isa bersujud dan bersyukur karena selamat dari godaan iblis. Tidak lama kemudian, Malaikat Jibril mendatanginya lalu menyampaikan tugas kenabian dan kerasulannya. Iblis tidak hanya berhenti di situ saja, suatu saat iblis ini membawa Nabi Isa ke atas Baitullah di Yerusalem.

“Wahai kekasih Allah, jika engkau ingin dakwahmu mudah dan di terima orang-orang, maka mintalah engkau kepada Tuhanmu untuk dijatuhkan dari tempat tinggi, maka Allah akan mengutus malaikat untuk melindungimu dari cedera,” kata Iblis.
Nabi Isa a.s yang mengerti maksud jahat dari Iblis itu, maka ia tidak menuruti permintaannya.

“Wahai laknatullah, aku tahu jika engkau sedang membujukku. Bnayak orang yang hanya senang melihat mukjizatku tapi sedikit yang akan beriman kepada Allah,” jelas Nabi Isa a.s.
Riwayat lain dari Ibnu Abbas menjelaskan bahwa iblis pernah bertemu dengan Nabi Isa di pintu Baitul Maqdis di Palestina.

“Wahai makhluk terlaknat, ceritakan kepadaku apa yang kamu perbuat terhadap umat Musa,” tanya Nabi Isa.

“Wanita Yahudi aku jadikan menguasai mereka,” jawab Iblis.

“Kemudian apa yang akan kamu perbuat terhadap umatku?” tanya Nabi Isa.

“Mereka saya perintah agar menjadikan kamu sebagai Tuhan,” jawab Iblis.

“Lantas apa yang kamu lakukan terhadap umat Muhammad Saw?” tanya Nabi Isa lagi.

“Saya tidak mampu menggoda mereka, akan tetapi mereka saya rayu senang terhadap uang, dinar, dan dirham, sehingga mereka lebih menyenangi hal itu daripada lafadz Laa Ilaaha Illallah,” jelas iblis.
Pada akhir dialog, Nabi Isa melihat punggung iblis tercabik-cabik dan terputus-putus. Nabi Isa bertanya,

“Lalu kenapa punggungumu mengalami hal seperti itu?”.

“Adapun sesuatu yang dapat membuat punggungku terputus adalah seorang hamba yang shalat sunnah di rumahnya baik sendiri atau dengan jamaah dan yang membuat badanku hancur adalah suara kuda perang di jalan Allah,” jawab iblis.

Mengetahui trik iblis dalam menggoda umatnya, Nabi Isa dengan tegas menyatakan bahwa dirinya bukanlah Tuhan yang di sembah. Beliau hanya seorang nabi dan rasul yang juga menyembah Allah Swt, Tuhan Sekalian Alam. (Kisah Islamiah)

Tanggapan:
Dari kisah ini dapat ditarik beberapa hikmah :
  • Nabi-nabi memiliki waktu dalam hidupnya untuk menyendiri. Hal ini dilakukan mereka untuk mendapat pencerahan jiwa dan kedekatan kepada Allah. Kita dapat meneladani mereka dengan merenungi dan menginstropeksi diri kita.
  • Iblis menggoda manusia dengan menawarkan kesenangan dunia.
  • Hanya yang zuhud dan mendapat pertolongan Allah yang selamat.
  • Walaupun tidak berhasil, Iblis tidak gampang menyerah.
  • Ia (Iblis) goda manusia dengan berbagai arah dan jalan. Kita harus tetap waspada dengan tipu tipu daya ini.
  • Iblis memberi tahu tentang godaannya yang menghancurkan umat Nabi-nabi.
  • Umat Musa –> Wanita.
  • Umat Isa –> MeNuhankan Isa.
  • Umat Muhammad –> Cinta dunia/uang.
  • Shalat sunnah, sendiri atau jamaah membuat punggung Iblis putus,
  • Suara kuda (atau kendaraan) yang berjihad fisabilillah menghancurkan badannya.

Oleh karena itu selayaknya kita merenungkannya. apakah kita termasuk yang di sindir Iblis, atau kita termasuk meneladani Rasul dan Sahabat, yaitu dunia yang sederhana dan lebih banyak beramal serta beribadah?

Dan apakah kita sudah banyak salat sunnah dan berjuang (melawan hawa nafsu termasuk jihad) di jalan Allah?

Kita sendiri yang paling tahu jawabnya.

Silahkan di share...

0 Komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah yang sopan.
Dilarang berkomentar berbau Spam, SARA, Promosi, atau hal hal negatif lainnya.