Saturday, 8 September 2012

Surga Nyanyian

Leave a Comment
Ahangar adalah seorang pembuat pedang yang hebat, tinggal di salah satu lembah timur Afghanistan yang terpencil. Di masa damai, dia membuat bajak dari baja, sepatu kuda dan, yang terutama, dia bernyanyi.

Lagu-lagu Ahangar, yang dikenal dengan nama-nama yang berbeda di berbagai bagian Asia Tengah, di dengarkan dengan penuh semangat oleh orang-orang di Lembah. Mereka datang dari berbagai daerah hutan pohon Walnut raksasa, dari Hindu-Kush yang berselimut salju, dari Qataghan dan Badakhshan, dari Khanabad dan Kunar, dari Herat dan Paghman untuk mendengarkan nyanyiannya.



Di atas semua itu, orang-orang datang untuk mendengarkan lagu dari semua lagu, yaitu lagu Ahangar dari Lembah Surga.

Lagu ini mempunyai kualitas yang tak terlupakan, dan nada gembira yang aneh, dan terutama, di situ terkandung kisah yang begitu aneh, sehingga orang-orang merasa bahwa mereka mengenal Lembah Surga yang terpencil, tempat asal si pembuat pedang tersebut. Mereka sering memintanya untuk menyanyikannya ketika dia sedang tidak ingin bernyanyi, dan dia akan menolak. Kadang-kadang mereka bertanya apakah Lembah itu benar-benar ada, dan Ahangar hanya dapat menjawab:

"Lembah Nyanyian itu sangat mungkin ada!"

"Tapi bagaimana kamu tahu?" tanya orang-orang, "Apakah kamu pernah ke sana?"

"Tidak dengan cara yang biasa," kata Ahangar.

Namun, bagi Ahangar, dan bagi hampir semua orang yang mendengarnya, Lembah Nyanyian itu nyata, sangat mungkin ada.

Aisha, seorang gadis setempat yang di cintainya, meragukan apakah tempat semacam itu ada. Demikian pula Hasan, seorang pembual dan pembuat pedang yang menakutkan, yang bersumpah akan menikahi Aisha, dan yang tidak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk menertawakan Ahangar.

Suatu hari, ketika para penduduk desa sedang duduk dengan tenang setelah Ahangar menceritakan kisahnya kepada mereka, Hasan berbicara:

"Jika kamu percaya bahwa lembah ini benar-benar ada, dan bahwa itu, seperti katamu, terletak di daerah pegunungan Sangan nun jauh di sana, di mana kabut biru berarak, mengapa kamu tidak mencoba untuk menemukannya?"

"Itu tidak baik, aku tahu," kata Ahangar.

"Kamu mengetahui apa yang menyenangkan untuk diketahui, dan tidak tahu apa yang tidak ingin kamu ketahui!" teriak Hasan."Nah, kawanku, aku akan mengusulkan sebuah ujian. Kamu mencintai Aisha, tapi dia tidak mempercayaimu. Dia tidak percaya tentang Lembahmu yang tak masuk akal itu. Kamu tidak bisa menikahinya, sebab jika tidak ada kepercayaan antara suami dan istri, mereka tidak akan bahagia dan segala macam keburukan sajalah yang akan muncul."

"Kalau begitu, apakah kamu berharap aku pergi ke Lembah itu?" tanya Ahangar.

"Ya," kata Hasan dan semua hadirin di situ bersama-sama.

"Jika aku pergi dan kembali dengan selamat,apakah Aisha akan setuju untuk menikah denganku?" tanya Ahangar.

"Ya," jawab Aisha perlahan.

Maka Ahangar, setelah mengumpulkan buah Mulberi kering dan roti secukupnya, berangkat menuju daerah pegunungan yang jauh itu.

Dia mendaki dan mendaki, hingga tiba di sebuah tembok yang mengelilingi seluruh jajaran pegunungan itu. Ketika dia telah mendaki dindingnya yang terjal, terdapat sebuah tembok lain, yang lebih curam daripada yang pertama. Setelah itu ada tembok ketiga, lalu ke empat, dan akhirnya ke lima.

Saat menuruni sisi lainnya, Ahangar mendapati bahwa dia berada di sebuah lembah yang sangat menakjubkan karena begitu miripnya dengan lembahnya sendiri.

Orang-orang datang untuk menyambutnya, dan ketika dia melihat meraka, Ahangar menyadari bahwa sesuatu yang sangat aneh tengah terjadi.

Berbulan-bulan kemudian, Ahangar si pembuat pedang, berjalan seperti seorang laki-laki tua, bertatih-tatih menuju lembah asalnya, dan sampai di gubuknya yang sederhana. Ketika berita tentang kedatangannya menyebar ke seluruh desa, orang-orang berkumpul di depan rumahnya untuk mendengarkan petualangannya.

Hasan si pembuat pedang berbicara mewakili mereka semua, dan memanggil Aangar untuk menunjukkan dirinya melalui jendela.

Setiap orang terpana sewaktu melihat betapa tua dia jadinya.

"Nah, Tuan Ahangar, apakah kamu telah sampai di Lembah Surga?"

"Benar."

"Dan seperti apakah itu?"

Ahangar, yang kesulitan menemukan kata-kata, memandang pada kumpulan orang-orang dengan rasa lelah dan tak berdaya, yang belum pernah di rasakannya sebelumnya.

"Aku mendaki dan terus mendaki. Ketika tampaknya tidak mungkin ada tempat tinggal manusia di tempat yang begitu terpencil, dan setelah mengalami banyak kegagalan dan kekecewaan, aku tiba di Lembah itu. Lembah ini persis sama dengan Lembah tempat kita tinggal ini. Dan kemudian aku melihat orang-orangnya. Mereka itu tidak hanya seperti kita: mereka adalah orang-orang yang sama. Sebab setiap Hasan, setiap Aisha, setiap Ahangar, setiap orang yang ada di sini, ada pula di sana, persis sama di Lembah itu."

"Semua ini adalah persamaan dan cerminan bagi kita, kalau kita melihat hal-hal semacam itu. Tapi kitalah persamaan dan cerminan dari mereka itu -- kita yang ada di sini, kita adalah kembaran mereka..."

Setiap orang menganggap Ahangar telah menjadi gila akibat penderitaannya, Aisha pun menikah dengan Hasan si pembuat pedang. Ahangar dengan cepat menua dan mati. Dan semua orang, setiap orang, setiap orang yang pernah mendengar kisah ini dari bibir Ahangar, pertama-tama kehilangan semangat dalam hidup mereka, lalu menua dan mati, sebab mereka merasa bahwa sesuatu akan terjadi di mana mereka tidak dapat mengendalikannya dan mereka tidak punya harapan. Karena itu mereka kehilangan minat terhadap kehidupan itu sendiri.

Hanya sekali dalam seribu tahun rahasia ini dapat di lihat oleh manusia. Ketika dia melihatnya, dia berubah. Ketika dia menceritakan fakta-faktanya secara jelas kepada orang-orang lain, mereka segera menua dan mati.

Orang-orang mengira bahwa peristiwa semacam itu adalah suatu bencana, maka mereka tidak boleh mengetahui tentangnya, sebab mereka tidak akan mengerti (Memang begitulah hakikat kehiduan mereka yang biasa.) bahwa mereka mempunyai lebih dari satu diri, lebih dari satu harapan, lebih dari satu perubahan -- jauh di atas sana, di Surga Nyanyian Ahangar si Pembuat Pedang yang Hebat.

(Sumber : Kearifan Orang-Orang Pandir, Kumpulan Anekdot Sufi, Idries Shah, Pustaka Hidayah, Bandung, cet. 1, tahun 2003)

0 Komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah yang sopan.
Dilarang berkomentar berbau Spam, SARA, Promosi, atau hal hal negatif lainnya.