Wednesday, 8 August 2012

(Cuma) Sekantung Gorengan

Leave a Comment
Seorang anak berumur belasan tahun terduduk lemas di bawah pohon di pinggiran jalan. Matanya yang sayu tampak tengah mengamati antrian mobil di sepanjang jalan Wijaya, Jakarta Selatan. "Mobil-mobil mewah", pikirnya. Sejenak kuperhatikan matanya menerawang entah apa yang di pikirkannya, namun yang kutahu pasti, ia pasti sangat lelah. Itu bisa di lihat dari seikat sapu lidi yang bertengger bersama tubuhnya di pohon rindang, juga seonggok sampah dalam sebuah keranjang besar. Kutahu, ia seorang penyapu jalanan yang setiap pagi tak pernah absen mengukur jalan kota.

Tak kuasa rasanya kaki ini terus melangkah tanpa berhenti menyapanya. Matanya yang sayu namun tajam itu seperti menusuk hati ini dan memaku kuat kaki-kaki ini untuk tak terus berlalu. Bukan, bukan mobil-mobil mewah itu yang membuatnya menerawang, aku yakin, itu hanya pelampiasan satu rasa yang sampai pagi ini di tahannya. Dan kini, dari matanya, juga lemah tubuhnya, aku bisa menangkap rasa yang tertahan itu.


"Sudah makan dik?", sapaku dengan senyum yang kupaksakan semoga menjadi yang termanis agar ia tak merasa sungkan atau takut.

"Belum...." Benar dugaanku. Tubuhnya bergerak sedikit bergeser semakin merapat dengan pohon, namun matanya terus mengira-ngira siapa gerangan yang menyapanya.

"Ini ambillah.....", sebungkus gorengan yang baru saja kubeli di Perempatan dekat lampu merah serta sebotol Aqua langsung menjadi miliknya. Seperti menggotong gunung terbesar di dunia rasanya jika aku terus mendekap makanan kecil tersebut tanpa peduli rasa lapar yang di tahan anak itu.

"Nggak....nggak usah...", duh, ingin sekali hati ini menangis. Sudah pasti kutahu ia sangat lapar, tapi kenapa masih menolak pemberianku? Hmmm, mungkin senyumku kurang manis, atau bisa jadi ia masih menangkap kekurang-ikhlasanku menyerahkan sarapan pagiku kepadanya. Bisa saja, mata hatinya merasai beratnya tangan ini terkulur bersama bungkusanku. Bukan tidak mungkin ia mampu melihat lebih dalam niat yang tersembul bersamaan dengan uluran tangan ini, yakni sekedar ingi mendaapatkan pujian atau perhatian sekeliling.

Ah, tidak. Takkan kubiarkan itu terjadi. Kulatih wajah dan bibirku untuk bisa memancarkan senyum terindah yang menyejukkan. Kurangkai betul-betul kalimat yang semestinya keluar dari mulut ini agar tak menakutkannya lagi, dan kuayunkan tangan ini seperti senam kesegaran jasmani yang entah sudah berapa tahun tak pernah kulakukan lagi, agar tangan ini begitu ringan saat terulur. Ahaaa.... hatiku berteriak, mungkin karena sudah lama aku tak melakukan senam, sehingga semua tangan ini menjadi kaku. Tapi... bukan, bersedekah itu tak ada kaitannya dengan rajin senam, olahraga, apalagi angkat berat. Berarti, untuk apa juga kulatih wajah dan bibirku tadi, dan bersusah payah merangkai kata layaknya seorang pujangga tengan menyusun syair keagungan hanya sekedar untuk menyodorkan sedekah.

"Ayo....ambil saja..." kali ini benar-benar kuerbaiki senyumku, juga uluran tangan yang lebih ringan. Tentu saja tanpa melakukan latihan-latihan terlebih dahulu. Karena ini sekedar mengulang satu hal yang sudah lama tak kulakukan. Ya...! hatiku berteriak lagi. Kutemukan jawabannya. Masalahnya bukan soal wajah dan senyumku yang harus dipaksakan semanis-manisnya, atau sudah sekian lama tak bersenam tangan. Sesungguhnya, diri ini sudah lama tak merasai duduk bersama, makan bersama dan berbagi dengan mereka, anak-anak yatim, fakir miskin, orang-orang yang lemah. Tangan ini sudah lama tak terulur untuk mereka, bahkan seringkali wajah dan pandangan ini berpaling dari hentakan-hentakan kaki lapar mereka, juga erangan penderitaan yang memekakan telinga ini.

Kuulangi lagi tawaranku, tapi kali ini sambil duduk disampingnya. Kalau saja pohon ini cukup untuk berbagi sandaran, tentu aku akan bersandar pula dengannya, sekedar untuk membuatnya nyaman, bahwa aku adalah dia, dia adalah bagian dari aku. Itu saja intinya. Untungnya, pohon ini terlalu kecil untuk tempat berbagi, karena sesungguhnya, saat ini aku tidak lebih membutuhkan sandaran itu. Cukuplah itu untuknya, aku tak ingin merebut lahan kesejukannya. Mungkin saja, selama ini hanya pohon itulah tempatnya bersandar, memperdengarkan keluhannya, menempelkan peluhnya, dan sesekali menjadi bantal tidurnya.

Ia sangat tahu, seandainya pohon itu memiliki tangan, pastilah kehangatan peluknya senantiasa dirasai. Tapi bukankah Tangan-tangan Allah bertebaran dimana-mana. Saya yakin, keyakinan itulah yang menjadikannya terus bersandar di pohon ciptaan Allah itu, karena ia tahu, kapanpun, dimanapun ia memasrahkan diri, Allah selalu di sana. Bersama-sama orang yang lemah, memeluk anak-anak yatim, dan sangat dekat dengan fakir miskin.

Tanganku masih terulur. Ia tak segera menyambutnya. Hanya keraguan yang menyemburat di wajahnya.

"Kalau saya ambil ini, mas makan apa?" Degg! Kali ini aku tak ingin mnangis. Ingin sekali kupeluk dia. Aneh rasanya, di zaman seperti ini, saat banyak orang tak peduli lagi dengan kepentingan orang lainnya, di waktu manusia satu menginjak manusia lainnya untuk kepentingan pemuasan perutnya sendiri, dikala semakin punahnya orang-orang yang mau memikirkan nasib orang lain. Eh, anak ini, yang aku ikhlaskan sarapan pagiku karena aku masih bisa membelinya lagi, malah berbalik memikirkan nasibku. "Mas makan apa?" kebayang nggak sih....???

"Sudah, saya bisa beli lagi. Ini buat adik," senyum di wajahnya memancarkan rasa syukur yang tak tergambarkan, meski hanya sekantong gorengan dan sebotol Aqua. Tanpa lupa mengucapkan terima kasih, ia menyambut tanganku.


"Aku yang berterima kasih sama kamu dik. Kalau kamu tidak menerimanya, entah kapan lagi kesempatan terbaik ini datang lagi kepadaku. Mungkin tangan ini akan semakin kaku sehingga semakin sulit terulur. Wajah dan pandangan ini bahkan bukan lagi sekedar berpaling saat kehadiranmu, tapi justru tak lagi melihat meski tangismu bagai halilintar di depan hidungku. Kaki-kaki ini tak lagi berhenti untuk sekedar mencari tahu, apa yang tengah terjadi denganmu hari ini untuk bisa duduk bersama denganmu." Aku teruskan langkahku tanpa menoleh kebelakang, ungkapan rasa syukurku terus terngiang mengiringi kelegaan dada yang tiba-tiba saja kurasakan, entah karena apa.

(Sumber : SPECTRA, Januari 2012)

0 Komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah yang sopan.
Dilarang berkomentar berbau Spam, SARA, Promosi, atau hal hal negatif lainnya.